Dear Mas Gagah….
Dari pagi disini hujan mas.. tapi aku tetap berjalan ke pantai ini. Pakai payung yang selalu kamu bilang norak warnanya, padahal menurut aku warnanya cerah membuat suasana hati ceria liatnya. Jangan protes ya mas, salah sendiri kamu gak ikut waktu aku beli payung ini
Sebelum aku tulis surat ini, aku menyusuri bibir pantai di tengah gerimis. Berharap menemukan botol berisi surat yang kamu kirim untukku. Tapi yang ada hanya kerang dan kumang. Pasti kamu belum baca ya? Atau surat aku gak sampai ke kamu?
Mas gagah…seseorang yang aku ceritakan di surat yang pertama bercerita padaku dia selalu menghanyutkan bunga liar untuk kekasihnya… “untuk kekasihku” dia bilang begitu waktu aku tanya kenapa dia selalu menghanyutkan bunga. Romantis ya mas pilihan katanya. Dia tidak bilang pacar tapi kekasihku.. Nanti kalau kamu pulang aku juga mau di panggil begitu ya mas..
Saat mas balas surat ini jangan lupa menyertakan bunga liar ya, setangkai saja cukup. Sebab aku ingin tau bagaimana perasaan kekasihnya itu waktu menerima bunga-bunga tersebut. Mungkin kekasihnya itu merasa menjadi Juliet yang sedang di mabuk asmara dengan Romeo. .
Udara bertambah dingin mas, aku pulang dulu. Jangan lupa bunga liarnya ya
Hari #ke-2
#30HariMenulisSuratCinta